Merancang Kematian

Baru saja hari ini saya mendapatkan pelajaran berharga, hari ini tetangga sebelah rumah di kota malang meninggal dunia, sebagai tetangga dan sesama muslim saya bertajiah sekaligus mengantarkan jenazah ke kuburan dan juga turut menyaksikan pemakaman almarhumah, ada satu kata yang akhir akhir ini selalu terniang dalam benak saya, sebenarnya kita semua manusia ini sedang "berjalan menuju kematian". pada substansinya kita sebenarnya bukan pergi ke kantor, pergi ke pasar, pergi silaturahmi, pergi sekolah, pergi wisata dan pergi pergi ke tujuan lainnya tapi sesungguhnya kita sedang pergi menuju kematian, karena kita tidak tau saat kita pergi dalam rangka apakah nyawa kita di cabut oleh Allah SWT, kita tidaklah tau kepergian kita kemanakah yang terakhir sebelum ajal menjemput, yang sudah pasti adalah kita sedang mengumpulkan banyak kepergian untuk menuju satu kepergian pasti yaitu kematian.
tidak ada jalan lain satu satunya jalan terbaik adalah mempersiapkan bekal "Pergi menuju kematian" sudah saatnya kita merancang kematian kita, merancang dalam hal ini bukan berarti merancang waktu kapan kita harus mati, atau tempat dimana kita akan mati, atau juga cara bagaimana kita mati, karena semua itu adalah hak prerogatif mutlak dari Yang Maha Kuasa, tetapi makna merancang kematian dalam hal ini adalah apakah saat kita mati banyak orang yang merasa kehilangan kita sementara didunia  dan bersedih dengan kematian kita dikarenakan amal baik kita yang senantiasa kita perbuat didunia terhadapa orang disekitar kita dan sesama manusia, ataukah tidak banyak yang merasa kehilangan kita atau bahkan bersyukur dengan kematian kita sebagai pertanda bahwa kita masih terlalu sering menjadi duri dan momok yang merigikan orang disekitar kita dan banyak orang lainnya, tinggal kita yang memilih, seandainya kita meninggal dikampung halaman atau tempat domisili kita, kita akan dikunjungi pelayat/pentajiah yang banyak bahkan membludak karena berita kematian kita membahana atau justru malah yang melayat hanyalah segelintir orang tetangga dan keluarga dekat saja, sekali lagi tinggal kita yang memilih
merancang kematian dalam hal ini juga termasuk setelah pasca kematian kita yang terkait dengan kita dengan tuhan, karena diatas adalah kaitan kita dengan sesama manusia, tentu hal ini juga bisa dirancang, maksud saya adalah kita berhak memiilih dan menetukan apakah kita mati dalam keadaan muslim ataukah kafir, karena sesungguhnya semua manusia pernah diberi hidayak, tinggal manusia tersebut yang menentukan apakah menerima hidayak ataukah tidak. kemudian kita juga bisa merancang apabila kita muslim apakah kita termasuk orang yang mendapat rahmat dan kenikmatan dialam kubur (golongan kanan) ataukah kita justru walaupun muslim namun mendapat siksa kubur (golongan kiri) akibat ulah dan perbuatan kita yang banyak melakukan dosa selama hidup di dunia, sekian kali lagi kita berhak memilih karena memang hidup itu adalah pilihan, pilihan dalam hal ini apakah kita golongan kiri atau kanan tinggal kita lihat dari refleksi kehidupan kita sekalang yang sedang kita jalani didunia ini semasa masih hidup, sebenarnya kita bisa meraba sendiri pantas masuk golongan manakah kita

Komentar

Postingan Populer