Kebahagiaan Hakiki
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah harta, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah uang, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, di tahun 2016 saya sudah memegang uang hampir 800 jt dan piutang hampir 3 milyar sebuah ukuran yang lebih pada masa itu untuk kebanyakan orang, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah kendaraan, Alhamdulillah saya sudah memilikinya bahkan 2 mobil yakni mobilio dan hilux keluaran terbaru 2015, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah tanah dan rumah, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, punya rumah banyak karena bisnis property (bangun perumahan), punya tanah hampir ribuan kavling dan berhektar-hektar, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah tahta, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah gelar, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, saya sudah bergelar S.STP MAP lulus dari perguruan tinggi terkenal di negeri ini, lulusan sarjana dari STPDN Bandung (sekolah kedinasan paporit) dan Magister di Universitas Brawijaya Akreditasi A (kampus paporit) dengan IPK tinggi 3,88 tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah jabatan, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, Saya pernah menjabat Kasubsi Trantib, Kasie Pem Kecamatan, Kepala Desa, Kasubag dan InsyaAllah Calon Camat dan Kepala Dinas bila Allah berkehemdak tentunya (karena pendidikannya memang untuk calon pemimpin), di usia saya yang masih muda (30 th) saya sudah berpangkat III D (sesuatu yang masih jarang di dunia birokrat) tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah kedudukan, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, saya menjabat General Manager sekaligus Owner perusahaan property (CV. Kautsar Property dengan omset miliyaran) tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah manusia, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah wanita, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, Saya menikah dengan wanita cantik, dari keluarga yang baik, serta berpendidikan tinggi, istri bergelar dokter dan sedang menempuh pendidikan dokter spesialis kandungan (langka dari kalangan perempuan) tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah anak, Alhamdulillah saya sudah memilikinya, saya memiliki anak 3 orang dan insyaAllah akan hadir yang ke 4, sudah lengkap laki laki dan perempuan, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Bila ukuran kebahagiaan manusia adalah fisik, Alhamdulillah saya dan keluarga sudah memilikinya, semua keluarga saya terlahir sempurna tanpa kecacatan, diberi kesehatan lahir dan batin, serta memiliki rupa dan fisik yang tergolong baik, tetapi rasanya tidak, karena saya merasa biasa-biasa saja.
Kalau ukuran kebahagian manusia adalah semua hal yang saya sebutkan di atas yakni harta, tahta dan wanita (3 Ta), maka di usia 30 th ini Alhamdulillah saya sudah memilikinya, saya sangat bahagia tapi tidaklah abadi, karena saya tidak terus menerus merasa bahagia (intinya biasa biasa saja) bukan kebahagian abadi dan hakiki.
Sekelumit cerita diatas bukanlah untuk kesombongan saya pribadi tapi ada hikmah yang ingin saya sampaikan dan bersama sama kita renungkan, Bahwa anggapan sebagian besar manusia saat ini bahwa tolak ukur sebuah kebahagian adalah memiliki dunia (harta, tahta, wanita) dalam genggaman adalah kekeliruan besar, karena betapa banyak orang orang yang lebih dari kita yang sudah memiliki semuanya dengan sangat bergelimang tapi juga tidak mendapatkan kebahagian hakiki. bahkan terkadang justru stess berat dan tidak sedikit yang berakhir bunuh diri. padahal semua sudah dimiliki dan mau apa saja bisa terealisasi. tapi tidak juga mendapatkan kebahagian hakiki.
Kebahagian yang didapat sesungguhnya hanyalah kebahagian semu dan tidak abadi, tetapi betapa banyak di antara kita yang berbondong bondong dan bersusah payah untuk mengejar semua indikator bahagia yang ternyata semu itu sampai mati matian, sikut sikutan dan tidak jarang bermusuhan lalu bunuh bunuhan demi sebuat harta, tahta dan wanita, Naujubillah.
Saya sudah memiliki indikator kebahagian menurut manusia tapi sekali lagi rasa rasanya bukan itu sebenarnya yang saya kejar, semua itu hanya sarana belaka yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.
Setelah saya bertafakur merenung secara mendalam, bahwa sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu adalah keimanan yang lurus, Iman kepada tuhan yang benar yakni Allah SWT, dengan keimanan yang benar akan melahirkan rasa bersyukur atas apa yang kita peroleh didunia ini, seberapapun ukurannya. Bila ukuran bahagia di dunia ini adalah harta, tahta dan wanita, maka sungguh Allah tidaklah adil, karena Allah tidak memberikan hal itu pada semua orang secara merata. Padahal Allah maha adil lagi bijaksana, Dia meletakkan rasa bahagia bukan pada zat benda tetapi qolbu/ perasaan hati yakni senantiasa merasa bersyukur dan menerima apapun keadaanya yang diyakini sebagai TakdirNya, sehingga semua orang siapapun dia tidak mengenal kaya dan miskin, pejabat atau jelata, baik rupa ataukah tidak berhak untuk bahagia.
Rasa syukur melahirkan sifat tawadhu rendah hati dan tidak sombong serta senang untuk berbagi kebagiaan dengan orang lain. setiap gerak gerik bernilai ibadah demi mengejar kebahagian abadi dan hakiki. dunia ini tempatnya bercampur antara bahagia dan sengsara, tetapi kelak di hari akhir perhitungan semua amal perbuatan manusia, antara kebahagiaan dan kesengsaraan itu akan dipisah menjadi dua, Semua kebahagian bahkan dilipatgandakan semuanya akan terkumpul di surga Allah SWT, sedangkan semua kesengsaraan bahkan dilipatgandakan dengan azab yang pedih akan dikumpulkan di neraka Allah SWT, dan saat itu kematian ditiadakan yang ada adalah keabadian selamanya. Disitulah sebenarnya kebahagian abadi dan hakiki yang tiada akhirnya. Semua kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk menuju kesana, tentu dengan senantiasa menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya semaksimal mungkin.
Semoga kita semua termasuk hamba Allah yang tidak berorientasi hidup kepada kebahagiaan dunia saja, tetapi berorientasi untuk kebahagian dunia dan juga akhirat yang lebih Abadi, semoga Allah mempertemukan kita di surganya kelak, Amin
Komentar
Posting Komentar