Makna Sebuah Gelar Akademik
Alhamdulillah hari ini saatnya saya di yudisium di kampus Universitas Brawijaya malang untuk gelar Magister Administrasi Publik (MAP) dengan IPK sangat memuaskan 3,88. Acara yudisium dihadiri peserta sebanyak 217 mahasiswa yang terdiri dari calon sarjana, magister dan doktor untuk kalangan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang 2016.
Akhirnya gelar akademik secara resmi disematkan kepada saya dengan tambahan MAP dibelakang nama pribadi, namun bukan itu yang menjadi tema dalam tulisan ini, akan tapi tentang makna dari sebuah gelar akademik. Dalam serangkaian acara yudisium yang khidmat itu, ada sesi acara pembacaan doa yang dibacakan oleh Bapak DR. Choirul Saleh salah satu pejabat FIA UB. Adapun yang menjadi renungan saya kali ini adalah ketika dibacakan doa secara islami oleh beliau adalah saat mengucapkan sholawat Nabi Muhammad Saw sebagai salah satu rukun doa yang biasa kita lantunkan. Seperti umumnya di acara apapun yang dilakukan seorang muslim, termasuk acara yudisium kali ini yang dihadiri para pemburu gelar sarjana, magister dan doktor senantiasa disebut nama beliau Nabi Muhammad SAW.
Yang patut kita ambil pelajaran dalam peristiwa ini adalah, apalah arti sebuah gelar akademik yang disematkan oleh manusia kepada manusia, Rasullullah tidak pernah mendapatkan gelar akademik sarjana, magister apalagi doktor. Namun kecerdasan, kepandaian dan kegigihan beliau jauh melampaui manusia pada umumnya. Beliau tidak pernah menempuh pendidikan resmi di bangku sekolah apalagi dunia kampus oleh karena itu beliau digelari ummi, Beliau langsung ditarbiah oleh Allah SWT melalui malaikat jibril yakni Zat yang memiliki dan menguasai semua ilmu di alam semesta ini.
Yang perlu kita instropeksi adalah, manusia akhir-akhir ini kehilangan arah karena lebih sibuk dan berorientasi kepada mengejar gelar, bukan mengejar ilmu atau kebermanfaatan ilmu bagi ummat. Coba kita bayangkan walaupun tanpa gelar akademik, Nabi kita Muhammad mampu di kenang hampir 1500 tahun sudah lamanya dan ajaran-ajaran beliau (hadist dan sunnah) sampai saat ini diamalkan hampir setengah umat manusia di bumi ini, sungguh luar biasa. Beliau langsung diberi gelar oleh Allah SWT dengan gelar kenabian dan kerasulan yang hanya dimiliki oleh sekitar 25 orang saja dimuka bumi ini sejak diciptakan bumi sampai hari akhir, Subhanallah.
Oleh karena itu siapapun anda yang baru atau akan memperoleh gelar akademik janganlah terlalu berbangga diri, karena sungguh gelar itu tidak ada maknanya sedikitpun apabila tidak membawa manfaat dan kemaslahatan bagi umat manusia, Sehingga hakikatnya bukanlah gelar akademik yang menjadi tolak ukur tapi manfaatlah yang menjadi tolak ukur. oleh karena itu saat memperoleh gelar akademik saat yudisium dan wisuda janganlah terlalu euforia apalagi melakukan acara pesta dan hal hal lain yang justru bernuansa kemaksiatan,
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak terlalu berorientasi pada gelar akademik tetapi mari kita lebih banyak memberi manfaat sebesar-besarnya bagi ummat dengan ilmu bermanfaat yang kita miliki dan kita dapatkan dibangku perkuliahan, karena bernilai pahala adalah bukan sebanayk banyak ilmu tetapi sebanyak banyak amal. Semoga Allah senantiasa menjadikan setiap langkah dan upaya kita bernilai ibadah, amin
Komentar
Posting Komentar